Ciri Khas Bahasa Jawa versi Tegal

Jadi penggemar di Facebook ...

Bagikan artikel ini ..
Selain pada intonasinya, dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya, yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis. Secara positif -seperti dipaparkan oleh Ki Enthus Susmono dalam Kongres Bahasa Tegal I- hal ini dinilai memengaruhi perilaku konsisten masyarakat penggunanya. Untuk lebih jelas, mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini:

* padha, dalam dialek Tegal tetap diucapkan 'pada', seperti pengucapan bahasa Indonesia, tidak seperti bahasa Jawa wetanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan podho.
* saka, (dari) dalam dialek Tegal diucapkan 'saka', tidak seperti bahasa Jawa wetanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan soko.

Tabel 1 : (perbedaan pengucapan)

Dialek Tegal Bahasa Jawa Standar
padha podho
saka soko
sega sego
apa opo
tuwa tuwo

Dalam kasus tersebut, Enthus menilai masyarakat pengguna bahasa Jawa wetanan (Surakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya) kurang konsisten ketika mengucapkan gatutkaca ditambahi akhiran ne. Kata itu bukan lagi diucapkan gatutkocone, melainkan katutkacane, seperti yang dituturkan oleh masyarakat Tegal. Lihat tabel berikut ini:

Tabel 2 (kesamaan ucapan pada kata dasar ditambah akhiran ne)
Kata Dasar Dialek Tegal Bahasa Jawa Standar
segane+ne segane segane, bukan segone
gatutkaca+ne gatutkacane gatutkacane, bukan gatutkocone
rupa+ne rupane rupane, bukan rupone

sumber : Wikipedia.org