Kata Ganti Orang dalam Bahasa Aceh

Jadi penggemar di Facebook ...

Bagikan artikel ini ..


Catatan:

* Arti ulôn/lôn yang sebenarnya adalah hamba.

* Menurut Abdul Gani Asyik, kata ganti lôn tuwan dan ulôn tuwan tidak memiliki bentuk imbuhan. Namun, menurut pengamatan saya ada. Contoh:

Lôn tuwan teungöh lônmakeuën (Saya sedang makan)

* Geutanyoë dipakai pada keadaan resmi, sedangkan tanyoë dipakai sehari-hari

* Gata dipakai untuk orang yang lebih muda. Juga oleh suami kepada istri, mertua kepada menantu dll. Tidak bisa digunakan untuk orang yang sebaya.

* Bentuk asal droëneu(h) adalah no yang sekarang masih dipergunakan di Aceh Besar (saya belum tahu di mana).

* Di Aceh Besar[1], tidak dikenal bentuk droëneu(h), tetapi dipakai singkatannya yaitu droën / drö n / dron (?). Selain itu ada kata ganti orang lain yang khas Aceh Besar yaitu kata ganti droë / drö / dro (?). Kata ganti ini dipakai khusus untuk orang yang sebaya yang lebih halus dari bentuk kah. Contoh:

Hay, droë na kajak baroë u Banda? (Eh, kamu ada pergi kemarin ke Banda Aceh?)

* Gop nyan dipakai untuk orang yang lebih tua juga kepada seseorang yang dihormati.

* Droëneu(h) nyan (beliau) dipakai untuk Tuhan, para nabi, raja, ulama (teungku) dan orang yang sangat dihormati. Penghormatan bentuk ini melebihi bentuk gop nyan (beliau).

* Ureuëng nyan (mereka) dipakai untuk orang yang lebih tua atau seseorang yang dihormati. Juga bisa dipakai untuk orang ketiga tunggal.

Ingat !!! Di sebagian besar Aceh Besar, bunyi /ë/ bisa dikatakan tidak dibunyikan. Bunyi /ë/ sangat jelas diucapkan di Pidië. Jadi, bagi Anda yang baru belajar bahasa Aceh, tidak perlu khawatir apabila belum bisa melafalkannya.

Contoh:

Droë diucapkan dro.

Kèë diucapkan kè.

Kamoë diucapkan kamo.

Tanyoë diucapkan tanyo.

Ureuëng diucapkan ureung.

Untuk kata ganti orang kedua jamak, selain bentuk yang di atas juga terdapat bentuk lainnya. Perbedaan bentuk ini merupakan perbedaan karena dialek.

sumber : http://bahasaaceh.wordpress.com/2009/10/26/kata-ganti-orang-dalam-bahasa-aceh/